Jalan 1


Sedikit bertafakur mengenang kisah perjalanan Nabi  Allah berikut dalam perjuangan menebarkan dakwah dan menyeru kaumnya. Tatakala usai menerima perintah berdakwah dengan terang terangan, Rasulullullah shallallahu 'alaihi wa sallam sibuk memikirkan bagaimana cara mengajak kaum Quraisy agar ikut beriman. Padahal Rasulullah tahu benar bahwa mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan, menyembah berhala sebagai agama nenek moyang mereka, dan mereka rela mati untuk itu.
Kepada Rasulullah Saw para pembesar Quraisy justru menawarkan segala fasilitas yang dapat menghentikannya dalam berdakwah:
“Jika Muhammad ingin menjadi raja, maka akan kami angkat dia menjadi pemimpin kami, Jika Muhammad ingin harta maka kami bangsa Quraisy akan mengumpulkan harta untuknya, sehingga ia menjadi orang paling kaya diantara kita , ataupu jika Muhammad menginginkan wanita akan kami berikan gadis gadis yang tercantik dinegri ini, dan jika Muhammad mengidap penyakit akan kami carikan dokter-dokter untuk mengobatinya”.
Penawaran ini disampaikan melalui paman beliau dengan harapan beliau akan menerima dan mau meninggalkan dakwah.
Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpi para da’i, menyatakan sikapnya yang agung terhada bujuk rayu kafir Quraisy: “Tidak!!, demi Allah wahai paman.. seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kanan ku dan bulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini..tidak akan aku lakukan! Sampai Allah memenangkan dakwah ini atau aku binasa karenanya”.
Inilah sikap tegas dan sepatutnya menjadi pedoman oleh para penyeru ke jalan  Allah. Terkadang kita mendapat godaan untuk meninggalkan dakwah dari keluakrga, sahabat , sanak family atau orang orang tercinta lainnya dan juga tuntutan materi atau kekayaan dimasa depan.
Apakah ada jaminan jika kita meninggalkan dakwah lantas segila keinginan dan cita cita dunia akan kita dapatkan?? Padahal sudah jelas janji Allah:
“Wahai orang-orang beriman, Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad :7)
Demikianlah kerja dakwah yang teremban diatas pundak kita, bagaikan bara api dalam genggaman, kala dipegang tangan panas terbakar, saat dilepas kegelapan menghadang da bahaya mengintai sebab tiadanya penerangan dan senjata yang dapat melindungi diri. Totalitas dalam menjalankan kebaikan bukanlah hal yang mudah. Sederhana saja sebabnya: karena setan tak mungkin membiarkan kita berada dalam kebaikan. Begitupun, Allah tidak mungkin meninggikan derajat kemuliaan kita sebelum kita diuji. Ujian adalah sebuah sarana pembuktian, apakah ucapan kita sekedar pemanis bibir, atau benar adanya. Ya. Iman itu butuh bukti. Bukan sekedar janji seperti seringkali disampaikan oleh mereka yang berdasi namun tidak tahu diri.
Oleh karenanya, jalan ini hanya bisa dilalui dengan kesungguhan. Ia tak mungkin bisa ditapaki oleh mereka yang bersantai leha. Manja, malas bukanlah tabiat para pelaku di jalan ini, “Sesungguhnya Islam membutuhkan orang yang memberikan segalanya untuk agamanya; kehidupannya, waktunya, hartanya, tenaganya, ruhnya, rumahnya, mobilnya, dan semua yang dimiliknya. Kita menghendaki seseorang yang menjual dirinya kepada Allah dengan keutuhan makna kalimat ini. Kita menghendaki seseorang yang setiap hari membawa sesuatu yang baru untuk dipersembahkan kepada Islam.” Totalitas pengabdian. Itulah yang dibutuhkan oleh Dakwah. Oleh karenanya, mereka yang tidak ihklas akan berjatuhan di jalan dakwah. Baik jatuh di awal jalan, di pertengahan atau menyimpang dari jalan yang telah dicontohkan oleh Sang Teladan. Dalam hal ini, banyak kita jumpai mereka yang memilih mundur dari medan dakwah. Padahal, mundur dari medan dakwah berarti kepedihan semu sebelum kepedihan selamanya di akhirat.
Sungguh! Seseorang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya laksana seseorang yang mendahulukan kelezatan sesaat, kesenangan semusim, dan mencari kegembiraan dengan membayar kesedihan sepanjang masa. Menceburkan diri ke sumur maksiat dan berpaling dari cita-cita mulia kepada keinginan rendah lagi hina. Dia akan berada di bawah kungkungan setan, di lembah kebingungan dan terbelenggu dalam penjara hawa nafsu.
Untuk itu saudaraku, jangan pernah meninggalkan dakwah ini. Sesungguhnya dakwah inilah yang akan membawa kita ke jalan kebenaran dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi ,tak terbatas oleh pandangan mata. So Tetaplah dijalan ini.. ^_^

0 komentar: